Pada suatu hari ada seorang teman bertanya, ‘kenapa ada orang yang tidak beriman, tidak pernah sholat malah hidup lebih beruntung daripada kita?’ Saya kemudian menjelaskan kepadanya keberuntungan seorang mukmin dan yang bukan tentunya berbeda. Keberuntungan seorang Mukmin akan abadi, dunia akherat sementara keberuntungan orang yang bukan Mukmin hanya sesaat, hanya pada waktu itu saja.’

Keberuntungan berbeda dengan nasib. Dua orang yang memiliki peluang sama belum tentu nasibnya sama. Banyak faktor yang menjadi penentu keberhasilan, ada faktor dibawah kendali dan ada faktor diluar kendali. Teori sederhana mengatakan bahwa semakin tinggi tingkat kecerdasan intelektual (IQ) seseorang, semakin tinggi pula peluang mencapai keberhasilan. Akan tetpi penelitian menunjukkan bahwa banyak orang yang memiliki IQ sangat tinggi justru bekerja dibawah perusahaan yang dipimpin oleh orang yang IQ-nya sedang-sedang saja. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa kecerdasan emosional ( EQ ) lebih signifikan menentukan keberhasilan dibandingkan IQ. mengapa ? karena hukum logika tidak selamanya relevan dengan problem solving. Carut marut masalah sering tidak mengikuti prinsipprinsip logika, oleh karena itu dibutuhkan pendekatan lain. Diantara pendekatan lain yang relefan dengan problem solving dari keruwetan adalah kearifan dan kesabaran.

Kearifan berasal dari kata arab arofa- ma’rifat-arifin-ma’ruf. yang mengandung arti bukan hanya tahu tapi juga mengenal. orang arif bukan hanya tahu  masalah, tetapi juga mengenali  karakterristik  masalah, sehingga problem solving dengan pendekatan kearifan melahirkan
penyelesaikan yang tuntas, bisa dipahami oleh semua pihak, bukan hanya logis. Hal-hal yang logis sering tidak  bisa  difahami oleh  pihak yang  kalah. Orang  arif sering  sengaja  mengalah  demi  memperoleh kemenangan yang sesungguhnya, bukan kemenangan yang formal.

Kesabaran atau sabar mempunyai devinisi yaitu tabah hati tanpa mengeluh dalam menghadapi cobaan dan rintangan dalam jangka waktu tertentu dalam rangka mencapai tujuan. Jadi sabar itu ada batasnya dan berkaitan dengan tujuan yang ingin dicapai. Orang yang selalu ingat tujuan biasanya mampu bersabar, sementara orang yang lupa tujuan sering mengerjakan hal-hal yang justru membuat tujuan semakin susah dicapai. Sabar bukan kelemahan, tetapi kekuatan menahan hal-hal yang tidak disukai hingga tujuan tercapai. Sabar  itu  pahit  tetapi  buahnya  manis.  Bertindak  reaksioner  mengikuti  hawa nafsu sepertinya memuaskan, tetapi buahnya pahit.

Kunci keberhasilan yang diajarkan oleh Nabi Muhamad, Semua orang muslim berpotensi mengalami kegagalan, kecuali yang beriman. Semua yang beriman juga berpotensi mengalami kegagalan, kecuali yang membuktikan imannya dengan amal perbuatan. Tapi semua yang beramal juga memiliki potensi kegagalan kecuali yang beramal secara ikhlas. Nah, Ikhlas adalah kunci keberhasilan. Ikhlas adalah sikap tanpa pamrih, pamrihnya hanya kepada Allah. Seorang mukhlis mencintai seseorang semata-mata karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, membenci juga semata-mata karena Allah, menerima pemberian juga semata-mata karena Allah, menolak tawaran juga semata-mata karena Allah.

Orang ikhlas seperti ini (mukhlis) tidak memiliki beban ketika menerima akibat dari sikapnya, akibat nikmat atau akibat derita. Seorang pemimpin yang jujur dan lurus, karena kejujurannya dimusuhi oleh atasannya  yang tidak   setuju  dan  akhirnya  direkayasa  sehingga  masuk  penjara. Karena keikhlasannya , didalam  penjara  dia  merasa  menang,  yaitu  menang  dari  godaan  tidak  jujur.      Ia  merasa  berhasil mempertahankan prinsip kebenarannya.

Didalam penjara dia mengadu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, robbi assijnu ahabbu
ilayya, “Ya Allah penjara lebih aku sukai daripada aku harus bersekongkol dengan ketidakjujuran.” Ketika waktu bergulir dan tiba saatnya kebenarannya terbuka, atasannya masuk penjara dan ia dikeluarkan. Nah, ketika itulah ia bertakbir mengagungkan Allah. mensyukuri keadilanNya. Sekali lagi ia merasa berhasil.

Kunci  Keberhasilan  dalam  Surah  Wal’ Asr  Al-Qur’an  surat  Al-“Asr  terjemahnya  demikian: 1.  Demi Masa ‘Asr, 2.  Sesungguhnya   semua   manusia   dalam  posisi  rugi, 3.  Kecuali  mereka  yang  beriman  dan membuktikan  Imannya  dalam  bentuk  amal  sholeh,  serta  aktif  mengingatkan  orang  lain  tentang kebenaran dan kesabaran.

Asar menurut perkspektif harian adalah saat yang tanggung karena sisa hari yang tinggal sedikit, sudah lelah dan sebentar lagi gelap malam. Asar menurut perspektif umur manusia adalah saat ketika orang sudah melampaui 75% usianya,  sudah  diusia  senja. Asar  menurut  masa  jabatan    tahun-tahun terakhir  dari  masa  jabatannya,  asar  menurut  perspektif  dunia  adalah  ketika    sudah  tua  dan manusia hidup dimasa zaman akhir.

Jadi menurut al-Quran semua orang pada saat asar itu dalam posisi lebih banyak memiliki banyak potensi kerugian. Apakah semuanya? Tidak. Orang beriman yang mewujudkan imannya dalam karya nyata memiliki kepedulain sosial komitmen moral selalu beruntung. Tidak
pernah rugi, meski sudah di sore hari, meski diusia senja, meski di akhir masa jabatannya, meski hidup di akhir zaman bahkan diakherat kelak, seorang Mukmin akan selalu beruntung.

Iklan